Eddington vs Chandrasekhar: Drama Dua Ilmuwan Dunia

Nama Chandrasekhar sangat terkenal di dunia astronomi. Dia menemukan formula matematik yang mengidentifikasi rute evolusi bintang, dikenal dengan istilah Limit Chandrasekhar. Atas kontribusinya di bidang astronomi, Chandrasekhar diganjar Nobel fisika pada 1983.

Eddington tidak kalah mentereng reputasinya, bahkan dia lebih dahulu diakui sebagai astronom terkemuka di dunia saat itu. Dialah orang pertama yang membuktikan kebenaran Teori Relativitas Einstein melalui observasi tentang pembelokan cahaya bintang oleh Matahari dalam peristiwa gerhana matahari total tahun 1919. Namanya juga diabadikan dalam istilah Limit Luminositas Eddington yang memungkinkan kondisi ekuilibrium antara tekanan radiasi (outward) dan gravitasi (inward). Atas kontribusinya yang signifikan, bahkan Eddington disebut-sebut sebagai salah satu bapak astrofisika.

Meski setiap ilmuwan dituntut bekerja dan berpikir secara objektif, bukan berarti subjektivitas tidak bermain di arena ilmiah. Dan itu manusiawi belaka, meski menjadi agak naif dilihat dari reputasi menjulang orang2 ini.

Chandra, lahir 1910 di India, dikenal cemerlang di bidang matematika dan fisika sejak kecil. Secara genetis, dia memang keponakan V. Raman, fisikawan India pemenang Nobel fisika tahun 1930. Chandra bertekad juga ingin seperti sang paman, meraih nobel fisika.

Keinginan itu dia kejar dengan mengambil studi doktoral (S3) di Trinity College, Cambridge, Inggris, yang saat itu termasuk lembaga pendidikan astronomi termaju di dunia. Sejak awal Chandra bergulat dengan formula2 matematik untuk mengetahui mekanisme tahap akhir evolusi bintang, terutama bintang katai putih (white dwarf). Kerja ilmiahnya, sayangnya, disepelekan banyak ilmuwan lain di Inggris. Hal ini membuat Chandra sempat tertekan dan nyaris frustrasi.

Toh dalam kondisi begitu, Chandra berhasil meraih gelar doktornya dari Cambridge. Bahkan, dia berhasil mendapatkan beasiswa postdoctoral untuk bekerja sama dengan astronom terkemuka saat itu, Eddington. Eddington saat itu menjadi ketua Royal Astronomical Society di London.

Dalam suatu momen, Eddington meminta Chandra untuk mempresentasikan makalah tentang bintang katai putih di forum RAS, yang dihadiri para astronom dan fisikawan penting. Sebelum hari H, Eddington telah membaca makalah tersebut dan tampak mengapresiasinya. Chandra merasa tersanjung, tetapi dia agak merasa aneh bahwa Eddington menjadi pembicara setelah sesi dia, dengan tema yang persis sama.

Saat itu tahun 1935. Pada hari H, Chandra memaparkan makalahnya, seperti biasa, dengan rumusan2 matematik yang canggih. Berdasarkan Teori Relativitas Einstein, Chandra menyimpulkan bahwa apabila massa katai putih itu melampaui limit tertentu, dia akan menjadi lubang hitam. Suatu ide yang sangat baru dan menantang saat itu.

Sesi sesudahnya, Eddington menanggapi makalah Chandra. Di luar dugaan, Eddington mengejek makalah Chandra, dengan menganggapnya semata2 permainan matematik di atas kertas, yang jauh dari kenyataan fisik sebenarnya. Meskipun tanggapan tersebut sangat emosional, reputasi tinggi Eddington menyebabkan orang2 tidak berani membantahnya.

Selama bertahun-tahun kemudian, makalah Chandra ramai ditelaah dan berkembang menjadi kontroversial. Sebagian skeptis, tetapi sebagian menganggap hipotesis Chandra masuk akal. Kemenangan pada akhirnya berpihak pada Chandra ketika Gerard Kuipers, seorang astronom kawakan dengan spesialisasi bintang katai putih, mendukung hipotesis Chandra secara teoretis. Namun, Eddington sampai akhir hayatnya pada 1944 tampaknya tetap tidak mau mengakui temuan Chandra. Dan hubungan mereka tidak pernah terpulihkan.

Chandra akhirnya memutuskan hijrah ke Chicago, Amerika untuk melanjutkan risetnya. Dia sempat berganti-ganti topik riset, dari transfer energi radiasi hingga kestabilan hidromagnetik.

Tahun 1972 untuk pertama kalinya keberadaan lubang hitam berhasil diidentifikasi, sebuah temuan observasional yang makin mengukuhkan hipotesis Chandra. Pengakuan puncak atas prestasinya akhirnya terjadi juga pada 1983 saat dia beroleh nobel fisika, berselang 40 tahun setelah dia mempresentasikan temuannya.

Di luar soal konflik pribadi yang tampaknya berbau rasial ini (pada tahun-tahun itu negeri Eddington masih menjajah negeri Chandra), yang menarik dalam kasus tersebut dari segi keilmuan adalah bagaimana hipotesis matematik akhirnya dibuktikan lewat observasi fisik. Pendekatan deduktif dalam sains semakin kuat seiring dengan kemajuan ilmu matematika. Contoh lain yang terkenal adalah hipotesis matematik tentang keberadaan Planet Neptunus sudah dilakukan oleh astronom Prancis, Le Verrier, beberapa tahun sebelum dikonfirmasi oleh observasi pada 1846.

Poin ini bisa diperluas kepada isu umum tentang adanya hubungan ontologis antara pikiran manusia dan kenyataan eksternal. Einstein pernah menyatakan keheranannya dalam ungkapan demikian: “the most incomprehensible thing about the universe is that it is comprehensible.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Citra Matahari Terkini

Latest image from Helioviewer.org.