Tentang Filsafat Misteri Eksistensi

Pertanyaan-pertanyaan berikut ini berkaitan erat dengan misteri terbesar eksistensi: Mengapa manusia dan alam semesta harus ada? Mengapa bukan kehampaan mutlak saja? Jika semua yang ada diciptakan Tuhan, apa tujuannya? Jika Tuhan sudah Maha Sempurna, mengapa Tuhan masih perlu menciptakan semua ini? Apakah kita benar-benar yakin bahwa Tuhan itu ada? Ataukah konsepsi kita tentang Tuhan hanya ilusi? Bagaimana kita mengetahui bahwa Tuhan benar-benar ada? Jika Tuhan memang ada, apa hakikat eksistensi Tuhan? Apakah ada tujuan terakhir dari semua eksistensi, termasuk eksistensi Tuhan?

Pertanyaan tentang misteri eksistensi “Why is there something rather than nothing?” pertama kali muncul dalam literatur filsafat modern melalui karya Gottfried Leibniz tahun 1697 (Leslie and Kuhn, 2013: 13). Sejak itu, pertanyaan tersebut dipandang sebagai pertanyaan puncak dari segala pertanyaan. Martin Heidegger mendeklarasikannya sebagai pertanyaan yang paling fundamental dari semua pertanyaan yang ada “The First of All Questions” (Heidegger, 2000:1). Stephen Hawking menyebutnya sebagai pertanyaan puncak dari semua pertanyaan manusia “The Ultimate Question of Life, The Universe, and Everything” (Hawking and Mlodinow, 2010:4). Sebagian ilmuwan juga mengakui pertanyaan tersebut tidak akan pernah mungkin ditemukan jawabannya oleh manusia.

Pembahasan tentang misteri eksistensi tentu saja bisa ditelusuri ribuan tahun jauh sebelum masa Leibniz, misalnya dalam karya Parmenides, dan juga dalam literatur Vedanta. Parmenides mengatakan bahwa sesuatu harus ada karena kekosongan dan kehampaan adalah suatu kemustahilan. Pandangan Adi Shankara, tokoh terbesar dalam Advaita Vedanta, mirip seperti pandangan Parmenides. Meskipun begitu mereka tidak memberikan pembuktian yang sangat meyakinkan mengapa kekosongan dan kehampaan adalah suatu kemustahilan. Pandangan para ahli kosmologi modern, misalnya bisa dilihat dalam karya Alexander Vilenkin (Vilenkin, 2006) atau Lawrence Krauss (Krauss, 2012), justru menunjukkan bahwa sangatlah mungkin alam semesta berasal, diciptakan atau berevolusi dari sesuatu yang tidak memiliki eksistensi.

Bagi umat beragama, semua misteri eksistensi tentu bisa dikembalikan kepada Tuhan. Tetapi ini hanya sekedar mengalihkan kepada pertanyaan yang lebih sulit, terutama tentang esensi atau hakikat Tuhan. Selain itu, konsepsi umat beragama tentang Tuhan berbeda-beda. Dalam satu agama yang sama pun bisa sangat berbeda dan terkadang terlihat bertentangan satu sama lain; apalagi perbedaan pandangan tentang Tuhan dari satu agama dengan agama yang lain. Dengan demikian, bagaimana mungkin mereka umat beragama benar-benar mempercayai bahwa konsepsi tentang Tuhan yang mereka yakini adalah konsepsi yang benar, sedangkan pemahaman yang lain salah? Untuk menjawab tantangan ini, maka berkembanglah Ilmu Teologi atau disebut Ilmu Kalam dalam tradisi Islam. Konsepsi tentang Tuhan dari para mistikus juga sangat berbeda dengan para ahli teologi dan filsafat. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui pandangan mana yang lebih mendekati kebenaran?

Kata “eksistensi” berasal dari bahasa Latin “exsistere” yang berarti “muncul” atau “menjadi”, yang dapat diartikan secara umum sebagai keadaan atau kemampuan, secara langsung atau tidak langsung, untuk berinteraksi dengan realitas, atau menjadi bagian dari realitas. Meskipun secara bahasa arti eksistensi sudah jelas, namun definisi dan hakikat dari eksistensi itu sendiri masih menjadi perdebatan dalam literatur filsafat, terutama dalam topik Ontologi yang dibahas dalam Metafisika. Sebagai contoh, menurut aliran materialisme segala sesuatu yang eksis pada dasarnya hanya merupakan materi dan energi, dan semua fenomena yang terjadi di alam semesta merupakan hasil interaksi antara materi dan energi. Sedangkan aliran idealisme, diantara tokohnya seperti G. W. F. Hegel dan Friedrich Schelling, menyatakan bahwa segala sesuatu yang eksis sesungguhnya adalah hanya berupa pikiran dan ide. Lalu bagaimana menurut kosmologi modern?

Star-forming region, dikenal sebagai N90 [1]

Menurut ilmu fisika jelas bahwa segala sesuatu di alam semesta terdiri dari materi dan energi. Juga semua fenomena hanya mungkin bisa terjadi karena adanya interaksi antara fermion (partikel pembawa materi) dan boson (partikel pembawa energi). Tanpa adanya interaksi tersebut tidak mungkin ada fenomena apapun yang dapat terjadi di alam semesta. Dari sini sepertinya aliran materialisme mendapatkan pembenaran dari ilmu fisika. Tetapi kosmologi modern (dalam teori inflasi kosmik) juga menunjukkan bahwa energi total alam semesta adalah nol. Apa artinya? Karena energi setara dengan materi (berdasarkan teori relativitas Einstein E=mc^2), maka materi adalah ilusi, atau juga bisa dikatakan bahwa ada level realitas yang lebih tinggi dari materi. Apakah realitas yang lebih tinggi dari materi? Menurut kosmologi modern seperti yang ditunjukkan oleh Vilenkin, alam semesta dapat berasal dari sesuatu yang tidak memiliki ruang-waktu, tanpa materi atau energi apapun, tetapi tunduk dan diatur penuh oleh hukum-hukum ilmu fisika. Apakah sesuatu tersebut, dan darimanakah datangnya hukum hukum fisika yang dimaksud? Bagi para pakar kosmologi, sesuatu tersebut adalah kekosongan mutlak (nothingness), sesuatu yang tidak memiliki eksistensi. Bagi mereka juga jelas bahwa hukum-hukum tersebut ditemukan berdasarkan pikiran dan ide para fisikawan. Hawking menyatakan bahwa menemukan hukum-hukum tersebut seperti membaca pikiran Tuhan, atau dengan kata lain hukum-hukum tersebut dipandang identik dengan pikiran Tuhan. Meskipun pikiran dan ide biasanya tidak dipandang sebagai eksistensi dalam fisika, tetapi menurut filosof aliran idealisme pikiran dan ide bisa dikategorikan sebagai eksistensi. Dari sini terlihat bahwa aliran idealisme sebenarnya juga mendapatkan pembenaran dari kosmologi modern, tetapi level kebenarannya lebih tinggi dari aliran materialisme. Selain aliran materialisme dan idealisme, juga terdapat aliran Filsafat Proses, dengan tokohnya Alfred North Whitehead. Menurut aliran ini, sifat paling fundamental dari realitas adalah perubahan atau proses untuk menjadi. Aliran ini berkaitan erat dengan Teori Titik Omega yang dikembangkan oleh Frank Tipler.

Terdapat paling tidak tiga pandangan filosofis yang berbeda terhadap misteri asal usul alam semesta. Pandangan pertama menyatakan bahwa alam semesta berasal atau diciptakan dari ketiadaan (Creatio ex Nihilo). Sebaliknya, pandangan kedua menyatakan bahwa mustahil eksistensi berasal dari ketiadaan, karena menurut pandangan ini ketiadaan hanya dapat melahirkan ketiadaan (Ex Nihilo Nihil Fit). Pandangan ketiga merupakan penciptaan berkelanjutan yang menyatakan bahwa penciptaan eksistensi terjadinya adalah melalui proses secara terus-menerus (Creatio Continua). Para teolog dan agamawan biasanya sangat menyukai pandangan Creatio ex Nihilo, karena pandangan ini bagi mereka seperti memberi implikasi bahwa alam semesta memerlukan penyebab akhir yakni Tuhan. Misalnya pada tahun 1951 Paus Pius XII mendeklarasikan bahwa teori Big Bang sesuai dengan doktrin Kristen tentang Creatio ex Nihilo. Para cendekiawan awal baik dari kalangan Muslim dan Yahudi, seperti Al-Ghazali, Al-Kindi, dan Maimonides, juga menyetujui Creatio ex Nihilo karena konsisten dengan pandangan mereka bahwa alam semesta memiliki permulaan dalam waktu. Sebaliknya, filosof muslim Al-Farabi dan Ibnu Sina mempercayai bahwa alam semesta tidak memiliki permulaan dalam waktu. Karena jika alam semesta memiliki permulaan maka hal itu akan mengakibatkan adanya interupsi terhadap perwujudan atau emanasi sifat-sifat Tuhan, yang menurut mereka adalah kemustahilan sebab sifat-sifat Tuhan adalah kekal dan tidak mungkin ada perubahan dalam sifat-sifat Tuhan. Akibat pandangan Al Farabi dan Ibn Sina tersebut, Al-Ghazali menuduh mereka sebagai kafir karena mempercayai kekekalan alam-semesta. Filosof Muslim Fakhruddin al-Razi justru memandang bahwa Al Ghazali lah yang tidak memahami filsafat. Filosof Muslim aliran peripatetisme Al-Thusi juga menyetujui pandangan Al-Farabi dan Ibnu Sina. Demikian juga menurut sufi-filosof aliran iluminasionisme Suhrawardi, karena bagi Suhrawardi emanasi sifat-sifat Tuhan adalah abadi sebagaimana Tuhan itu sendiri, sebab sifat dan wujud Tuhan adalah satu dan tidak terpisahkan satu sama lain. Kesatuan antara sifat dan wujud Tuhan juga dipercaya dan ditekankan oleh teolog-filosof besar Kristen, Thomas Aquinas.

Kaum mistikus Islam, seperti sufi besar Ibn Arabi dan Jalaluddin Rumi cenderung kepada pandangan Creatio Continua. Menurut pandangan ini, Tuhan menciptakan alam semesta, lalu seketika itu pula memusnahkannya, kemudian menciptakannya lagi dengan seketika, dan begitu seterusnya. Dengan demikian emanasi dari sifat-sifat Tuhan tidak pernah terputus, persis seperti pendapat para filosof Muslim, tetapi kaum sufi lebih menekankan kebergantungan ontologis alam semesta kepada Tuhan. Mulla Sadra juga mempercayai Creatio Continua, namun berbeda dengan para sufi, Mulla Sadra melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa semua kategori eksistensi, termasuk substansi, selalu mengalami gerak, disebut gerak transubstansional (harakah jauhariyah) menuju level realitas yang lebih tinggi, dan karenanya selalu terjadi perubahan terus menerus terhadap esensi segala sesuatu. Fenomena terjadinya perubahan terus menerus terhadap esensi segala sesuatu juga dipercaya dan ditekankan oleh ajaran Buddha melalui konsep shunyata, yakni keyakinan bahwa realitas segala sesuatu adalah kekosongan karena tidak memiliki esensi yang permanen.

Pandangan Ex Nihilo Nihil Fit pertama kali dikemukakan oleh Parmenides. Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Adi Shankara. Menurut pandangan ini mustahil alam semesta diciptakan dari ketiadaan, karena ketiadaan hanya dapat melahirkan ketiadaan. Menurut Parmenides, keseluruhan realitas bersifat kekal, tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, dan bersifat statis yang tidak bisa mengalami perubahan apa pun. Menurut Adi Shankara, keseluruhan realitas adalah Brahman, bersifat kekal, sempurna dan sehingga tidak bisa mengalami perubahan apa pun. Ex Nihilo Nihil Fit terlihat seperti bertentangan dengan Creatio ex Nihilo karena bagaimana mungkin Tuhan menciptakan alam semesta dari ketiadaan jika ketiadaan hanya dapat melahirkan ketiadaan? Kontradiksi akan terhindari jika ketiadaan tersebut dipahami sebagai sesuatu “di luar” Tuhan, tetapi karena tidak ada satupun yang “di luar” Tuhan, maka alam semesta diciptakan berasal dari sesuatu “di dalam” Tuhan. Inilah yang disebut dengan Creatio ex Deo. Dalam Al Quran disebutkan bahwa Tuhan meniupkan Roh-Nya saat menciptakan manusia, konsisten dengan Creatio ex Deo: “Kemudian apabila Aku sempurnakan kejadiannya, serta Aku tiupkan padanya roh (ciptaan) Ku, maka hendaklah kamu sujud kepadanya” (QS: 15:29).

Bagaimana pandangan kosmologi modern terhadap asal usul alam semesta? Apakah Creatio ex Nihilo, Ex Nihilo Nihil Fit, Creatio Continua, atau sesuatu yang lain? Teori standar Big Bang dan teorema singularitas dari Hawking-Penrose memberi implikasi bahwa alam semesta bermula dari titik singularitas t = 0 detik. Teolog-filosof kontemporer William Craig menafsirkan peristiwa tersebut sebagai Creatio ex Nihilo dan memandang titik singularitas sebagai bukti bahwa alam semesta memerlukan penyebab terakhir, yakni Tuhan. Penafsiran ini tentu saja ditolak oleh para fisikawan karena kelahiran alam semesta melalui titik singularitas sepenuhnya tunduk kepada hukum-hukum fisika kuantum yang bersifat probabilitas, yang tidak memerlukan penyebab apa pun, kecuali hanya tunduk kepada hukum-hukum kuantum itu sendiri. Selain itu eksistensi partikel virtual yang diprediksi fisika kuantum juga menunjukkan bahwa eksistensi dapat muncul secara spontan tanpa penyebab apa pun.

Perkembangan terakhir kosmologi modern lebih dekat dengan pandangan Creatio Continua, karena penciptaan terus-menerus dari eksistensi dapat dijelaskan melalui penciptaan partikel virtual dan Multiverse. Kosmologi modern juga dapat menjelaskan pandangan Ex Nihilo Nihil Fit. Hal ini menunjukkan tidak ada kontradiksi antara Ex Nihilo Nihil Fit dengan Creatio Continua. Penjelasan yang dimaksud datang dari persamaan Wheeler-de Witt, yang merupakan hasil penggabungan persamaan Schrodinger dan persamaan teori relativitas umum. Meskipun persamaan Schrodinger dan relativitas umum bergantung kepada waktu, namun ketika kedua persamaan tersebut digabungkan, maka besaran waktu menjadi lenyap. Hal ini memberi implikasi bahwa jika alam semesta dilihat secara keseluruhan (God’s view), maka alam semesta terlihat seperti statis, tidak terlihat ada perubahan apapun di alam semesta; perubahan hanya akan terlihat jika kita berada “di dalam” alam semesta, dan bukan “di luarnya”.

Persoalan hubungan antara esensi dengan eksistensi juga masih menjadi sumber perdebatan diantara para filosof sehingga memerlukan klarifikasi. Mana yang lebih fundamental eksistensi atau esensi? Lebih dahulu mana eksistensi atau esensi? Bagi aliran filsafat peripatetisme dan aliran tasawuf Wahdatul Wujud, eksistensi lebih fundamental dari esensi. Mulla Sadra juga menyetujui pandangan ini. Sebaliknya, Suhrawardi memandang esensi lah yang lebih fundamental dari eksistensi. Seperti aliran peripatetisme, Mulla Sadra juga mempercayai adanya level-level realitas dari eksistensi, tetapi menurut Mulla Sadra level-level tersebut bersifat kontinyu (bergradasi), sementara aliran peripatetisme berpendapat level-level tersebut bersifat diskrit. Sedangkan Suhrawardi, dengan memakai konsep Cahaya, mempercayai level-level realitas yang bersifat kontinyu dari esensi, bukan eksistensi.

Untuk mengklarifikasi persoalan hubungan antara esensi dan eksistensi ini, perlu disepakati terlebih dahulu definisi dari esensi. Esensi dari sesuatu adalah sifat yang paling fundamental, yang mana tanpa sifat tersebut maka sesuatu tersebut tidak mungkin eksis. Sifat lain yang tidak fundamental, yakni yang bukan syarat sesuatu tersebut untuk eksis, disebut dengan aksiden. Jadi definisi esensi dari sesuatu adalah sifat yang paling fundamental yang merupakan syarat perlu dan cukup bagi sesuatu tersebut untuk eksis. Misalnya emas, apa sesungguhnya esensi dari emas? Esensi dari emas adalah unsur kimia yang memiliki nomor atom 79. Nomor atom 79 inilah sifat yang paling fundamental dari emas, yang mana tanpa sifat ini mustahil emas akan eksis. Contoh sifat fisika lain dari emas adalah kerapatannya, yakni 19.3 g/cm^3. Sifat ini adalah aksiden atau bukan sifat fundamental dari emas, karena kerapatan ini masih bisa berubah jika emas dicampur dengan unsur lain (misalnya Tungsten), tetapi meskipun dicampur, emas tersebut masih eksis. Jika emas bertransformasi menjadi nomor atom 80, maka emas tidak dapat eksis lagi, melainkan akan berubah menjadi merkuri. Saat ini emas dapat dibuat dari merkuri dalam reaktor nuklir. Dengan memakai definisi esensi tersebut, maka esensi dan eksistensi adalah identik, karena esensi adalah karakterisasi unik dari eksistensi, atau definisi dari eksistensi. Juga terlihat bahwa eksistensi lebih fundamental dari aksiden. Baik eksistensi maupun esensi, termasuk aksiden, memiliki level-level realitas yang tidak berhingga, karena dapat bertransformasi menjadi sesuatu yang lain tanpa batas, baik secara diskrit atau kontinyu. Seperti yang sudah dijelaskan di muka, menurut kosmologi modern semua partikel dan atom yang membangun keseluruhan eksistensi di alam semesta berasal atau hasil transformasi terus-menerus dari partikel virtual dalam false vacuum. Tetapi karena esensi sesuatu sering tersembunyi dan sulit untuk ditentukan, dan eksistensi sering bercampur dengan aksiden, maka konsep tentang eksistensi dan esensi masih sering dibedakan. Para teolog-filosof awal baik dalam kalangan Islam, Kristen dan Yahudi mempercayai doktrin Divine Simplicity yang menyatakan bahwa keidentikan antara eksistensi dan esensi hanya berlaku untuk Tuhan, karena eksistensi dari makhluk tidak ada yang murni sebab sudah bercampur dengan yang lainnya (seperti contoh emas dengan tungsten diatas).

Seperti dalam analisa Vilenkin, kosmologi modern menunjukkan bahwa realitas yang paling fundamental dari alam semesta ternyata bukanlah ruang-waktu, materi, atau energi, melainkan merupakan hukum-hukum fisika yang bersifat immaterial. Hukum fisika tersebut hanya dapat dirumuskan dengan menggunakan matematika. Inilah salah satu yang melatarbelakangi Max Tegmark merumuskan The Mathematical Universe Hypothesis (MUH) yang menyatakan bahwa alam semesta pada hakikatnya adalah matematika. MUH terdiri dari 4 level Multiverse yang diurutkan berdasarkan tingkat kompleksitasnya sebagai berikut: Semesta dengan kondisi awal yang berbeda (Level 1), semesta dengan konstanta alam yang berbeda (Level 2), semesta dalam teori Many Worlds (Level 3), dan semesta-semesta dengan struktur matematika yang berbeda (Level 4), yang mencakup semua level semesta dibawahnya. Bentuk konsisten dari Modal Realism (yang menyatakan semua possible world eksis) dan Fecundity Principle (yang menyatakan semua yang dapat dibayangkan eksis) semuanya termasuk Level 4.

Menurut Pythagoras, juga banyak filosof yang lain seperti Dean Rickles, realitas matematika adalah termasuk eksistensi yang niscaya (necessary existence), bukan eksistensi kontingen, karena eksistensinya tidak bergantung kepada jenis eksistensi apapun yang lain dan bersifat abadi. Jika matematika adalah realitas niscaya maka jawaban terhadap misteri eksistensi “Why is there something rather than nothing?” menjadi terlihat lebih jelas, yakni eksistensi harus ada karena terdapat jenis eksistensi tertentu yang bersifat niscaya, yakni eksistensi dari matematika. Berdasarkan MUH, misteri eksistensi alam semesta identik dengan misteri matematika.

Referensi:
[1]https://www.spacetelescope.org/images/heic0702a/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Citra Matahari Terkini

Latest image from Helioviewer.org.