Tentang Tujuan Final Eksistensi

Salah satu misteri terbesar eksistensi berkenaan dengan tujuan akhir eksistensi. Adakah tujuan akhir eksistensi, termasuk eksistensi Tuhan? Ataukah, seperti pandangan Friedrich Nietzsche, semua yang ada ini sama sekali tidak bertujuan? Menurut Nietzsche, ide tentang kemajuan eksistensi merupakan delusi, karena sesungguhnya yang ada hanya berupa absurditas kesia-siaan belaka. Untuk membuktikan pandangan ini, Nietzsche mengembangkan teori tentang Eternal Return, yang menyatakan bahwa semua peristiwa di alam terjadinya akan selalu berulang, tanpa batas. Kemajuan eksistensi menjadi mustahil, sebab eksistensi tersebut akan kembali lagi ke keadaan awalnya. Setiap gerak dari eksistensi, betapapun jauhnya, pada akhirnya akan kembali lagi ke asal mulanya. Argumentasi terkuat dalam fisika untuk teori ini diberikan oleh Poincare Recurrence Theorem. Tetapi Frank Tipler menunjukkan bahwa teorema ini tidak dapat diterapkan di alam semesta dalam skala besar. Selain itu karena persediaan energi yang tidak terbatas, maka alam semesta akan terhindar dari bahaya Heat Death akibat naiknya entropi sebagai konsekuensi hukum kedua termodinamika. Tipler menyimpulkan karena Eternal Return dan Heat Death tersebut dapat dihindari, maka kemajuan eksistensi menuju level yang lebih tinggi merupakan hal yang tidak dapat terhindarkan. Level eksistensi tersebut, menurut Tipler, dapat dikarakterisasi dengan jumlah dan kapasitas memori dari informasi yang diproses. Semakin besar jumlah informasi dan kapasitas memori, maka semakin tinggi level eksistensi tersebut.

Menurut Tipler (Tipler; The physics of immortality, 1994) semua eksistensi yang berasal dari singularitas Big Bang memiliki tujuan yang sama, yakni untuk mencapai singularitas kosmik terakhir, yang disebutnya Titik Omega. Istilah tersebut berasal dari Teori Titik Omega yang dikembangkan pertama kali oleh Teilhard de Chardin. Titik inilah tujuan final dari semua eksistensi. Tipler mengidentifikasi titik ini sebagai Tuhan, karena menurutnya titik tersebut memiliki sifat-sifat Tuhan, seperti Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Hadir. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa saat ini esensi Tuhan dalam bentuknya yang paling lengkap masih belum eksis, karena Tuhan masih berevolusi dari titik singularitas awal Big Bang menuju Titik Omega. Tuhan yang berevolusi ini berada di dunia, berinteraksi dengan semua fenomena, sehingga mempengaruhi sekaligus juga dipengaruhi oleh semua fenomena yang ada di dunia. Tuhan ini menciptakan, sekaligus juga diciptakan oleh dunia. Menurut Tipler, konsepsi Tuhan diatas tidak bertentangan dengan ajaran agama, melainkan justru merupakan inti dari ajaran Kristen dan Yahudi. Tipler menerangkan bahwa terjemahan yang benar dari Injil Kitab Keluaran 3:14 dalam bahasa asli Hebrew “Ehyeh Asher Ehyeh” adalah “I shall be What I shall be”. Hal ini berarti, menurut penafsiran Tipler, esensi Tuhan akan ada di The Ultimate Future, yakni Titik Omega. Penafsiran Tipler tersebut didukung penuh oleh Wolfhart Pannenberg, salah satu teolog kontemporer terbesar Kristen. Tokoh agama Buddha yang berpengaruh Thich Nhat Hanh juga terlihat mendukung pandangan tersebut karena menurutnya dalam ajaran Buddha seluruh eksistensi selalu berubah dan berevolusi, bahkan Buddha pun sebagai eksistensi tertinggi juga masih berevolusi sampai sekarang.

Konsep Tuhan dalam Teori Titik Omega mirip seperti konsep yang dikembangkan oleh Whitehead dalam Filsafat Proses. Dalam bukunya yang terkenal Process and Reality, Whitehead menyatakan bahwa “Tuhan menciptakan Dunia” adalah benar, sebagaimana benar pula “Dunia menciptakan Tuhan”. Teori Titik Omega juga berkaitan erat dengan salah satu prinsip terpenting dalam Metafisika yaitu Prinsip Plenitude. Prinsip ini menyatakan bahwa alam semesta mengandung semua bentuk yang mungkin dari eksistensi, namun belum semuanya terealisasikan. Menurut Plato semua bentuk potensialitas tersebut pada akhirnya harus terealisasikan. Titik Omega dapat dipandang sebagai perealisasian dari semua potensialitas eksistensi, konsisten dengan teori Plato. Sebagaimana titik singularitas awal Big Bang, Titik Omega juga transenden berada diluar ruang-waktu.

Dalam tradisi filsafat Islam, yang paling dekat dengan Teori Titik Omega adalah filsafat dari Muhammad Iqbal. Menurut Iqbal, Tuhan merupakan Ego Mutlak yang memiliki Kehendak Kreatif yang bersifat dinamis, konsisten dengan Creatio Continua, pandangan filsafat yang menyatakan penciptaan realitas yang terjadi secara kontinyu terus menerus. Mirip dengan Whitehead, Iqbal menyatakan perubahan dapat terjadi dalam Diri Tuhan, tetapi Iqbal menekankan bahwa perubahan tersebut bukan merupakan tanda ketidaksempurnaan Tuhan, melainkan justru merupakan esensi dari Kehendak Kreatif Tuhan sebagai Ego Mutlak. Bagi Iqbal, berdasarkan tafsirannya terhadap al-Quran surat al-Ikhlas, kesempurnaan Ego Mutlak berarti tidak ada reproduksi dalam diri-Nya. Adanya perubahan dalam Diri Tuhan tidak bertentangan dengan tafsiran surat al-Ikhlas tersebut.

Filsafat Proses dan Filsafat Iqbal tentang Tuhan dapat dipahami melalui kerangka level-level infinity sebagai berikut. Eksistensi level-level infinity tersebut dibuktikan pertama kalinya oleh Georg Cantor. Realitas matematika merupakan eksistensi yang niscaya. Ditinjau dari perspektif tertentu manusia, eksistensi niscaya dari matematika tersebut dapat dipandang sebagai kesempurnaan, karena sudah mengandung infinity. Seandainya manusia tersebut diberi waktu trilyun-trilyunan tahun untuk merealisasikan semua potensialitas yang ada dalam realitas matematika, waktu yang sangat lama tersebut pun masih belum cukup karena adanya sifat ketidakterbatasan (infinity) dari matematika. Tetapi dalam perspektif yang lain, realitas matematika sesungguhnya masih jauh dari sempurna, karena tidak lengkap berdasarkan teorema ketidaklengkapan. Untuk melengkapinya, mutlak diperlukan level infinity yang lebih tinggi dari level infinity matematika atau ZFC (A.H. Budiyanto; Tentang Realitas Dari Segala Sesuatu, Jurnal Filsafat, 2018:7-9). Gerak dari Ego Mutlak tersebut merupakan proses perealisasian dari potensialitas level-level tidak terhingga dari infinity. Meskipun Ego Mutlak tersebut merupakan realitas tunggal, sehingga mustahil ada reproduksi dalam diri-Nya, namun dalam perwujudan-Nya selalu memiliki banyak wajah (yang tak terhingga) tergantung level perspektif yang melihatNya. Jika dilihat dalam perspektif yang berbeda, perspektif-perspektif tersebut dapat terlihat berbeda atau bertentangan satu sama lain, tetapi tidak ada kontradiksi disini, misalnya seperti sifat dinamis dan statis dari alam semesta yang ada dalam tafsiran implikasi dari persamaan Wheeler De-Witt.

Secara umum, semua perbedaan pandangan dan doktrin, selama masih konsisten, baik dalam agama atau filsafat maupun bidang-bidang keilmuan yang lain, semuanya dapat dipahami melalui kerangka yang sama seperti diatas. Dengan demikian keniscayaan (kepastian) dari eksistensi sesungguhnya memiliki level-level yang tidak berhingga, yang berkorespondensi dengan level-level kesempurnaan dari realitas, yang pada gilirannya juga berkorespondensi dengan level-level dari infinity. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Mulla Sadra dalam pembuktian ontologisnya, realitas dalam perspektif tertentu dapat dipandang sebagai kesempurnaan, namun bergradasi. Semua kebenaran-kebenaran akan mengalami konvergensi di realitas yang lebih tinggi. Realitas merupakan eksistensi tunggal yang merupakan kesempurnaan didalam dirinya sendiri, tetapi tidak lengkap jika dilihat secara keseluruhan. Untuk menjadi lebih lengkap, realitas secara keseluruhan bertransformasi secara terus menerus, konsisten dengan Creatio Continua.

Teori Tipler dibangun berdasarkan lima pernyataan sebagai berikut: (i) Alam semesta memiliki geometri tertutup seperti bola tiga dimensi, (ii) Supaya alam semesta berakhir di Titik Omega, harus tidak ada batas yang tidak dapat dilalui pengamat (event horizons), (iii) Kehidupan pada akhirnya akan menyebar ke seluruh alam semesta dan mengontrolnya, (iv) Jumlah informasi yang diproses alam semesta adalah tidak terhingga, dan (v) Jumlah informasi yang disimpan di alam semesta juga akan mendekati tidak terhingga ketika saat mendekati Titik Omega.

Pernyataan (i) dan (ii) diatas tidak sesuai dengan ilmu fisika modern karena perkembangan dalam teori Superstring menunjukkan dimensi alam semesta minimal ada 10, dan teori Black Hole menunjukkan event horizons eksis di alam semesta. Karena itu sebagian besar fisikawan menolak teori Tipler dan menganggapnya sebagai pseudoscience. Mungkin satu-satunya fisikawan terkemuka yang mendukung teori Titik Omega saat ini adalah David Deutsch, pionir teori komputer kuantum. Semua persoalan fisika yang disebut diatas suatu ketika mungkin dapat diatasi dengan ditemukannya geometri alam semesta yang konsisten dengan teori Titik Omega.

Tetapi sampai kapanpun mustahil ilmu fisika bisa menyelesaikan persoalan infinity dari pernyataan (iv) dan (v). Seperti yang dijelaskan Tipler (Tipler, The Physics of Immortality, 1994:249), esensi dari Titik Omega adalah Self Programming Universal Turing Machine (SPUTM). Karena SPUTM dapat dikode dalam ZFC, level infinity dari SPUTM adalah level terendah dalam hierarki The Higher Infinite dan karenanya mustahil dapat lengkap (A.H. Budiyanto; Tentang Realitas Dari Segala Sesuatu, Jurnal Filsafat, 2018:12). Persoalan yang dihadapi Teori Titik Omega mirip persoalan yang ada dalam argumentasi Kosmologikal, Teleologikal, dan Ontologikal pembuktian eksistensi Tuhan, yakni gagal dalam memecahkan persoalan infinity. Misteri terdalam dari eksistensi semuanya berkaitan dengan infinity, karena keseluruhan realitas pada dasarnya identik dengan infinity.

Agus Hasan Budiyanto

trueabsolute@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Citra Matahari Terkini

Latest image from Helioviewer.org.