Pluto: Kenapa ditendang dari keanggotaan planet?

Pluto, sejak diidentifikasi pada 1930, dikenal sebagai planet termungil, terjauh, dan terakhir yang ditemukan. Sebagai bontot, Pluto mungkin punya tempat tersendiri di hati publik. Mungkin bukan kebetulan pula bahwa Pluto jadi salah satu nama anjing paling terkenal di dunia.

Maka, ketika Pluto secara resmi dicoret dari keanggotaan planet pada 24 Agustus 2006 oleh IAU (International Astronomical Union), tidak sedikit orang yang protes, kecewa, dan bahkan marah karena mungkin terlanjur sayang atau punya sweet memories dengan si bontot. Guru-guru mungkin ikut kesal karena harus mengganti buku-buku teks sains di sekolah-sekolah.

Kenapa dia disingkirkan? Apakah Pluto melakukan “kesalahan besar” atau “berubah sifat” sehingga “diekskomunikasi” dari komunitas planet? Apakah para planet lain dan Big Boss Matahari bersekongkol menyingkirkan si bungsu?

Gambar 1. Citra Pluto Terbaru yang Diambil oleh Wahana New Horizons (NASA)
Kredit: https://www.nasa.gov/mission_pages/newhorizons/images/index.html

Secara kronologis, orang sejak dulu telah mengenal 5 planet yang dapat dilihat dengan mata telanjang: Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Lalu, berkat kemajuan teknologi teleskop, ditemukanlah Uranus (1781) dan Neptunus (1846). Terakhir, Pluto ditemukan pada 1930.

Pandangan bahwa Tata Surya terdiri dari Matahari sebagai pusat ditambah 9 planet yang mengelilinginya sudah established alias mapan selama puluhan tahun. Urutan nama planet pun dihapalkan anak-anak sekolah dengan mnemonic (“jembatan keledai”) tertentu.

Kemapanan itu mulai dipertanyakan pada 2005 ketika ditemukan sebuah benda langit di seberang Neptunus (disebut Transneptunian) bernama Eris, yang berukuran lebih besar daripada Pluto. Kalau Pluto disebut planet, bukankah Eris lebih layak lagi disebut planet? Beberapa waktu kemudian, ditemukan beberapa objek Transneptunian lain yang juga seukuran atau lebih besar dari Pluto. Dan kalau benda-benda semacam itu dianggap sebagai planet, maka jumlah planet di Tata Surya akan membengkak menjadi ratusan. Susah dihapal dan gak asyik, kan? Jadi, potensi “kekisruhan” ini harus dicegah.

Maka, para astronom pun mempertanyakan status keplanetan Pluto. Mereka berdiskusi bahkan berdebat keras tentang isu ini, hingga menyepakati tiga kriteria apakah suatu benda termasuk planet atau bukan.

Pertama, planet harus secara mandiri mengelilingi Matahari. Bulan mengelilingi Bumi (bersama-sama mengelilingi Matahari), jadi jelas bukan planet.

Kedua, planet bermassa cukup besar sehingga memiliki gravitasi yang cukup untuk mempertahankan massa dan bentuk yang relatif bulat (bola). Komet, meski mandiri mengelilingi Matahari, jelas bukan planet karena materinya ambyar terkena angin Matahari.

Ketiga, orbit planet “bersih” dari benda-benda lain yang sebanding. Artinya, di orbitnya, dia harus jadi “raja”.

Gambar 2. Orbit Pluto di Tata Surya
Kredit: https://www.nasa.gov/audience/forstudents/k-4/stories/nasa-knows/what-is-pluto-k4.html

Plato memenuhi dua kriteria pertama tapi gagal pada kriteria ketiga. Sebab, massa Pluto hanya sekitar 7% dibandingkan benda-benda lain yang ada di orbitnya. Bandingkan, misalnya, dengan Bumi, yang massanya 1,7 juta kali massa benda-benda lain di orbitnya. Artinya, Pluto sama sekali tidak dominan bahkan di orbitnya sendiri.

Dengan pertimbangan itu, status Pluto didegradasi dari planet menjadi planet katai (dwarf planet) alias planet kerdil. Objek-objek Transneptunian lain yang termasuk planet katai adalah Eris, Makemake, Haumea, Ceres, Sedna, Orcus, Salacia, dan lain-lain.

Di luar tiga kriteria tadi, bahkan sebelum Eris ditemukan, Pluto memang beda sendiri dibandingkan kawan-kawan Planet di Tata Surya.

Keunikannya adalah ukurannya yang terlalu kecil untuk sebuah planet (lebih kecil dari bulan). Lalu, Pluto termasuk benda langit terestrial alias bersifat batuan (menyerupai planet-planet dalam seperti Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars) padahal planet-planet luar lainnya merupakan planet gas (Saturnus, Jupiter, Uranus, Neptunus). Di samping itu, orbit Pluto paling eksentrik dibandingkan planet-planet yang lain.

Belum puas dengan alasan-alasan ini? Kalau Anda masih protes, Anda tidak sendiri. Tidak sedikit astronom yang belum terima dengan keputusan IAU pada 2006 tersebut. Tapi, kita sepakati sajalah, Pluto bukan lagi planet. Biar lebih simpel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Citra Matahari Terkini

Latest image from Helioviewer.org.