Tuhan, Prinsip Anthropik, Desain Cerdas, Dan Multiverse

Dalam kosmologi, Prinsip Copernicus menyatakan bahwa posisi manusia di alam semesta tidak terlihat istimewa dan spesial. Prinsip ini sepertinya mendapatkan pembenaran dalam kosmologi karena posisi manusia di bumi tampak sama sekali tidak penting, terlihat bahwa bumi hanya seperti debu yang tidak berarti di alam semesta, apalagi di Multiverse. Sebaliknya, Prinsip Anthropik menyatakan bahwa posisi manusia di alam semesta adalah sangat penting, karena alam semesta yang kita tempati sekarang seperti ditujukan dan diarahkan hanya untuk menjamin keberlangsungan eksistensi manusia. Perkembangan ilmu kosmologi modern mendukung pandangan Prinsip Anthropik.

Terdapat berbagai macam Prinsip Anthropik dengan formulasi yang berbeda-beda. Contoh yang penting adalah The Participatory Anthropic Principle (PAP) rumusan John Wheeler, salah satu fisikawan terbesar sepanjang masa. PAP menyatakan bahwa eksistensi alam semesta bergantung kepada kesadaran pengamat. Tanpa adanya pengamatan tersebut, mustahil alam semesta eksis. Eksistensi alam semesta, baik masa lalu mapun masa depan, bergantung kepada kesadaran kolektif manusia. Perkembangan teori fisika kuantum, yakni dalam eksperimen “Wheeler’s delayed-choice” yang berhasil dikonfirmasi pada 2007, mendukung kebenaran PAP (Jacques, 2007). Einstein tidak menyukai aspek subjektif dari fisika kuantum tersebut, reaksinya yang terkenal berupa pertanyaan retoris: “Apakah bulan ada disana ketika tidak ada seorangpun yang melihatnya?”. Contoh penting lain adalah The Final Anthropic Principle (FAP) yang dirumuskan oleh Frank Tipler dan John Barrow. FAP menyatakan kehidupan cerdas harus eksis di alam semesta, dan sekali eksis tidak dapat musnah lagi. FAP berkaitan erat dengan Teori Titik Omega.

Menurut Martin Rees, terdapat enam konstanta alam yang mendukung kebenaran Prinsip Anthropik (Rees, 2000). Keenam konstanta tersebut bagaikan dirancang sedemikian rupa sehingga jika nilainya berubah sedikit saja, maka eksistensi manusia di alam semesta menjadi mustahil. Konstanta tersebut adalah N, ε, Ω, λ, Q, dan D. Konstanta N digunakan untuk mengukur kekuatan gaya listrik yang mengikat atom-atom secara bersama kemudian dibagi dengan gaya gravitasi, besarnya adalah 10^36. Jika nilainya kurang sedikit saja dari itu, mustahil ada kehidupan kompleks seperti manusia.

Konstanta ε berkaitan dengan gaya nuklir yang mengikat inti atom, besarnya adalah 0.007. Apakah yang terjadi jika nilai ini berubah sedikit saja menjadi 0.006 atau 0.008? Jika nilainya 0.006, maka proton tidak dapat bergabung dengan neutron untuk membentuk inti atom, yang mengakibatkan tidak mungkin terbentuknya unsur-unsur kimia, yang terjadi adalah alam semesta sederhana yang tersusun oleh hanya atom hidrogen. Eksistensi manusia menjadi mustahil di alam semesta seperti itu. Sedangkan jika nilainya 0.008, maka mustahil akan terbentuk bintang-bintang (termasuk matahari), dan mustahil pula ada air di alam semesta. Tanpa matahari dan air, mustahil manusia bisa hidup.

Ratusan Cluster Galaksi yang Berjarak Sekitar 7,5 Milyar Tahun Cahaya dari Bumi [1]

Konstanta Ω mengukur jumlah materi di alam semesta. Konstanta λ mengukur pengembangan alam semesta. Konstanta Q mengukur energi yang diperlukan untuk mengikat struktur makro di alam semesta, seperti bintang dan galaksi. Konstanta D mengukur jumlah dimensi ruang di dunia kita, yakni 3. Seperti dua konstanta yang dibahas sebelumnya, keempat konstanta tersebut diatas jika nilainya berubah sedikit saja, maka eksistensi manusia di alam semesta menjadi mustahil.

Apakah keenam konstanta tersebut hanya terjadi kebetulan saja? Ataukah ada Desain Maha Cerdas di alam semesta yang menunjukkan adanya Tuhan? Peluang konstanta tersebut terjadi secara kebetulan sangatlah kecil, hampir mendekati nol. Para fisikawan sejak lama berharap kesemua konstanta tersebut pada akhirnya dapat diturunkan dari teori fisika yang lebih fundamental dari yang ada sekarang, semacam Theory of Everything. Tetapi The Landscape of String Theory memprediksi terdapat sekitar 10^500 false vacuum, yang masing-masing dapat menjadi vakum dari pocket universe. Menurut Leonard Susskind, hal ini menunjukkan bahwa penampakan Desain Cerdas di alam semesta kita hanya ilusi, tidak ada yang istimewa dari konstanta tersebut sebab hanya merupakan realisasi dari salah satu dari 10^500 false vacuum yang diprediksi oleh teori Superstring (Susskind, 2006). Perhitungan menggunakan F-theory memberikan prediksi jumlah false vacuum yang jauh lebih besar lagi dari nilai diatas. Alam semesta kita ternyata hanya salah satu dari tidak berhingga alam-alam semesta lain di Multiverse, sama sekali tidak terlihat istimewa dan spesial. Jika suatu saat para fisikawan berhasil merumuskan teori yang lebih lengkap tentang Multiverse, mungkin Desain Maha Cerdas dapat ditemukan kembali, tetapi dalam level yang lebih tinggi. Teori semacam itu minimal harus mampu memecahkan persoalan tentang pengukuran probabilitas di Multiverse atau yang juga disebut Multiverse’s measure problem.

Referensi:
[1]https://www.spacetelescope.org/images/potw1822a/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Citra Matahari Terkini

Latest image from Helioviewer.org.