Tentang Argumen Kosmologikal, Teleologikal, Dan Ontologikal Bukti Eksistensi Tuhan

Bagi umat beragama semua misteri eksistensi bisa dikembalikan ke Tuhan. Tetapi tentu saja tidak semua persoalan akan selesai hanya dengan mempercayai eksistensi Tuhan. Karena konsep tentang Tuhan berbeda-beda, bahkan dalam agama yang sama sekali pun, maka kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan tersebut perlu mendapatkan pembuktian rasional. Bagi beberapa filosof dan mistikus, pembuktian rasional seperti itu merupakan termasuk kebijaksanaan tinggi (hikmah) yang harus diupayakan bagi setiap penempuh jalan ruhani.

Mengikuti Immanuel Kant, pembuktian eksistensi Tuhan dapat dibagi menjadi tiga macam: Kosmologikal, Teleologikal, dan Ontologikal. Pembuktian Kosmologikal mendapat tempat khusus dalam tradisi Islam yaitu Ilmu Kalam, sehingga sering juga disebut argumentasi Kalam-Kosmologikal. Argumentasi tersebut dikembangkan diantaranya oleh Al-Kindi, Ibn-Rusyd, Ibn-Sina, Thomas Aquinas, dan lain-lain.

Ibnu Rusydi [1]

Formulasi modern dari argumentasi Kalam-Kosmologikal diberikan oleh William Lane Craig sebagai berikut:
(i) Setiap eksistensi yang memiliki awal harus memiliki penyebab.
(ii) Alam semesta memiliki awal.

Berdasarkan asumsi (i) dan (ii) diatas, dan hukum logika silogisme, maka bisa disimpulkan berikut ini:
(iii) Alam semesta memiliki penyebab.
(iv) Jika alam semesta memiliki penyebab, maka penyebab tersebut adalah Tuhan, yang menciptakan alam semesta, Tuhan tanpa penyebab, tanpa awal, imaterial, di luar ruang-waktu, dan yang maha kuasa.

Berdasarkan (iii) dan (iv) diatas dan juga hukum logika silogisme, maka bisa disimpulkan:
(v) Tuhan pencipta alam semesta harus ada, yang eksistensinya niscaya tanpa ada penyebab, tanpa awal, imaterial, di luar ruang-waktu, dan maha kuasa.

Para pengritik argumentasi ini biasanya menunjukkan bahwa asumsi (i) dan (ii) tidak bisa diterima karena bertentangan dengan ilmu fisika. Fenomena partikel virtual menunjukkan bahwa eksistensi bisa muncul tanpa sebab apa pun (bersifat probabilitas murni), hanya tunduk kepada hukum fisika kuantum, jadi bertentangan dengan asumsi (i). Persoalan ini suatu ketika mungkin bisa diatasi ketika penafsiran probabilitas dari fisika kuantum bisa dihilangkan sepenuhnya dan diganti dengan penafsiran yang deterministik, misalnya seperti teori De Broglie-Bohm . Menurut Craig, asumsi (ii) bisa dibuktikan dari teorema singularitas Hawking-Penrose dan dari perluasannya teorema Borde, Guth, Vilenkin untuk kasus pocket universe. Tetapi para kosmolog, termasuk Vilenkin sendiri, menolak kesimpulan Craig. Pada kenyataannya, dengan menerapkan koreksi efek-efek kuantum terhadap Relativitas Umum, Ahmed Faraq Ali dan Saurya Das menunjukkan bahwa sangatlah mungkin alam semesta bersifat kekal, tidak pernah diciptakan. Jelaslah bahwa asumsi diatas tidak bisa dibuktikan dengan ilmu fisika, paling tidak untuk saat ini, tetapi masih bisa dibuktikan dengan filsafat melalui Principle of Sufficient Reason, yang menyatakan bahwa segala sesuatu pasti memiliki alasan atau penyebab untuk eksistensinya. Prinsip ini berkaitan erat dengan doktrin Ex Nihilo Nihil Fit.

Tidak seperti asumsi (i) dan (ii) yang suatu saat nanti mungkin bisa dibuktikan dengan ilmu fisika atau filsafat, pernyataan (iv) selamanya mustahil bisa dibuktikan dengan ilmu fisika atau filsafat. Seandainya alam semesta memiliki pencipta atau penyebab, tidak ada jaminan atau bukti bahwa pencipta tersebut adalah Tuhan (karena bisa jadi diciptakan oleh eksistensi lain yang memiliki ilmu dan peradaban yang jauh lebih tinggi dari manusia). Juga seandainya pencipta alam semesta tersebut memang benar Tuhan, maka tidak ada jaminan dan bukti bahwa Tuhan adalah penyebab terakhir dari alam semesta. Untuk mengatasi persoalan tersebut, para pendukung argumentasi Kosmologikal biasanya menyatakan kemustahilan adanya actual infinity dan sehingga mustahil pula terjadinya infinite regress dari penyebab eksistensi P1 -> P2 -> P3 ->….. di alam semesta, yang mengimplikasikan penyebab terakhir harus ada di luar ruang-waktu, yakni Tuhan. Hal ini tentu saja tidak benar karena bertentangan dengan teorema Cantor. Salah satu implikasi teorema Cantor adalah level infinity dari bilangan real lebih besar dari level infinity bilangan asli, dan ini hanya mungkin kalau kita memandang bilangan asli sebagai actual infinity, yang disebut Cantor dengan aleph-zero. Persoalan infinity tersebut mustahil bisa diselesaikan dengan Sains atau filsafat, tetapi hanya bisa diselesaikan dengan menggunakan Metamatematika, yakni analisis terhadap The Higher Infinite.

Argumentasi Teleologikal berusaha membuktikan eksistensi Tuhan melalui keteraturan alam-semesta. Seperti argumentasi Kosmologikal, argumentasi ini berdasar pada pengamatan terhadap alam semesta, sehingga pengetahuan tentang ilmu kosmologi menjadi sangat penting. Argumentasi ini berusaha membuktikan bahwa keteraturan alam semesta begitu sempurna tanpa kekurangan suatu apapun, mengimplikasikan desain yang maha cerdas, sehingga hanya Tuhan saja yang mampu menciptakannya. Eksistensi Multiverse menunjukkan bahwa argumentasi terkuat tentang Desain Cerdas dalam kosmologi yang diberikan oleh prinsip Anthropik ternyata hanya ilusi (Landscape Superstring). Kelemahan argumentasi ini sama dengan argumentasi Kosmologikal yakni gagal memecahkan persoalan infinity.

Berbeda dengan argumentasi Kosmologikal dan Teleologikal, argumentasi Ontologikal tidak mengacu kepada pengamatan terhadap alam semesta, melainkan murni menggunakan logika. Argumentasi ini dikembangkan diantaranya oleh Anselm, Descartes, Leibniz dan Kurt Godel. Berikut ini adalah contoh argumentasi Ontologikal yang dirumuskan oleh Mulla Sadra.
(i) Ada Eksistensi
(ii) Eksistensi adalah kesempurnaan, tidak ada yang lebih sempurna dari Eksistensi
(iii) Tuhan adalah kesempurnaan dan kesempurnaan dalam Eksistensi.
(iv) Eksistensi adalah realitas tunggal dan sederhana, tidak ada kemajemukan.
(v) Realitas tunggal tersebut bergradasi berdasarkan level intensitas kesempurnaannya.
(vi) Level-level kesempurnaan tersebut harus memiliki titik limit tertingginya, yakni eksistensi yang paling sempurna.
(vii) Karena itu Tuhan harus ada sebagai Eksistensi yang paling sempurna.

Argumentasi Mulla Sadra ini tentu masih jauh dari memenuhi standar pembuktian modern, terutama pernyataan (v) dan (vi) yang masih belum bisa dibuktikan oleh Mulla Sadra, karena pembuktian tersebut harus bisa memecahkan persoalan infinity, persis seperti kelemahan argumentasi Kosmologikal dan Ontologikal. Pembuktian ontologikal mencapai keeksakannya oleh Kurt Godel, yang kemudian ternyata ditemukan tidak konsisten (Benzmuller and Paleo, 2016). Kelemahan semua pembuktian Ontologikal adalah dalam hal perumusan esensi Tuhan. Perlu ditekankan disini, Godel tidak pernah menerbitkan pembuktiannya tersebut secara resmi, mungkin sudah mengetahui kalau pembuktian ini tidak sempurna. Yang ia lakukan sebenarnya hanya memberi formulasi modal logic dari pembuktian sebelumnya yang dirumuskan oleh Leibniz. Thomas Aquinas menyatakan bahwa pembuktian Ontologikal tidak mungkin berhasil karena manusia tidak pernah mengetahui esensi Tuhan. Tetapi pembuktian Kosmologikal dan Ontologikal yang disukai oleh Thomas Aquinas sesungguhnya juga gagal, karena adanya persoalan infinity yang tidak lebih mudah untuk dipecahkan dari persoalan pengetahuan tentang esensi Tuhan. Semua argumentasi pembuktian eksistensi Tuhan gagal karena tidak bisa memecahkan persoalan infinity. Mirip seperti kegagalan ilmu fisika dalam memahami titik singularitas dari Big Bang.

Referensi:
[1]http://www.ijtihad.org/ibnrushd.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Citra Matahari Terkini

Latest image from Helioviewer.org.