Carl Sagan: Membuat Astronomi Dicintai Semua Orang

Sebagai seorang saintis, Carl Sagan memberi kontribusi penting tentang pengetahuan kita seputar Tata Surya. Dia memprediksi dengan tepat keberadaan danau metana di Titan, bulan-terbesar Planet Saturnus. Ketika orang membayangkan Venus sebagai sebuah surga hangat, dia tunjukkan bahwa Venus merupakan planet yang kering, tebal, dan sangat panas. Sagan juga menyatakan bahwa atmosfer bumi purba pernah punya gas-gas dengan efek rumah kaca yang sangat kuat.

Sagan juga mengambil peran penting dalam misi luar angkasa untuk mengeksplorasi Tata Surya pada abad ke-10, termasuk misi Mariner, Viking, Voyager. Sagan juga yang memelopori pencarian kecerdasan di luar Bumi.

Lebih dari itu, kita mengenal Sagan sebagai astronom secara personal. Dialah orang pertama yang menyadari betapa pentingnya peran media massa untuk memopulerkan sains. Pertanyaannya: mengapa seorang astronom profesional dan penasihat utama NASA mau mengorbankan karier akademiknya yang cemerlang demi menjalani peran “sederhana” sebagai komunikator sains? Inilah kisah Carl Sagan.

Masa Kecil
Cerita bermula pada 1939. Saat itu Sagan barulah seorang anak lima tahun yang penuh rasa ingin tahu. Malam demi malam dia memandang ke langit dan terpesona dengan titik-titik berkelap-kelip di atas sana. Suatu malam dia bertanya kepada ayahnya, “Yah, apa bintang itu sebenarnya?”

Sang Ayah menjawab spontan, “Bintang ya cahaya di langit.” Tapi si astronom kecil ini tidak puas dengan jawaban tersebut. Menyadari ketidakpuasan si anak, sang Ayah (Sam Sagan) mengajak Carl untuk mengeksplorasi lebih lanjut.

Maka, pada suatu hari, bersama ibunya, Rachel, bocah-5-tahun Carl pergi ke perpustakaan setempat untuk mencari buku-buku tentang bintang. Dia penasaran, apa kira-kira isi buku semacam itu. Sang petugas perpustakaan tersenyum ketika dia mencari di rak-rak buku yang dipesan Carl, yang menunggu dengan tidak sabar.

Ketika si petugas kembali, antusiasme Carl berubah menjadi kekecewaan besar. Si petugas membawa buku tentang bintang-bintang Hollywood, bukan bintang yang diminati oleh si calon astronom.

Si petugas, setelah merasa malu, mencari buku yang dicari Carl. Setelah beberapa lama, dia membawa buku yang dicari Carl, dengan judul Rahasia Bintang. Dia memberikannya kepada si astronom cilik. Peristiwa ini memberi kesan mendalam dan tak terlupakan bagi Sagan muda.

Karier di NASA
Carl Sagan mengambil kuliah fisika di Universitas Chicago di bawah bimbingan para fisikawan terkemuka saat itu, antara lain Enrico Fermi and Edward Teller. Sebagai mahasiswa S1, dia bekerja di bawah asistensi pakar genetika, H.J. Muller, dan menulis skripsi tentang asal-usul kehidupan.

Selanjutnya, Sagan menyelesaikan S-2 fisika pada 1956 dan S-3 fisika pada 1960. Dia kemudian menjadi saintis di NASA, dan terlibat aktif dalam pembuatan misi luar angkasa Mariner ke Planet Venus. Mariner ternyata mengkonfirmasi hipotesisnya tentang kondisi permukaan Venus pada 1962. Dia juga membantu NASA dalam misi pendaratan manusia pertama di Bulan pada 1969.

Dia kemudian bekerja sama lagi dengan NASA dalam program luar angkasa Viking yang ditargetkan untuk mengeksplorasi habitat dan lingkungan di Planet Mars. Inilah pertama kali dalam sejarah manusia, benda buatan manusia dapat mendarat di dunia asing.

Sayangnya, pendaratan wahana Viking kurang mendapatkan perhatian publik. Publik tidak tahu betapa pentingnya peristiwa itu dalam eksplorasi luar angkasa. Apakah berita itu memang tidak penting bagi publik? Apakah menyimak berita tentang Viking itu hanya buang-buang waktu? Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui imajinasi Carl.

Maka, dua tahun kemudian, tepatnya pada 1978, Carl merancang acara TV bernama Cosmos: a personal voyage (Kosmos: Perjalanan Pribadi). Tujuannya adalah menuturkan kepada publik kisah seputar evolusi alam semesta, sains, dan peradaban. Pada 1980 episode perdana Cosmos ditayangkan dan segera meledak menjadi hit.

Cosmos
Dengan menggunakan kata cosmos, alih-alih universe, Carl ingin memberi kesan bahwa alam semesta merupakan sebuah sistem yang tertata dan kompleks. Lawan dari chaos (kekacauan atau ketidakteraturan). Tak ada figur lain saat itu yang sanggup menjelaskan alam semesta secara fasih, dengan segala keanggunan dan misterinya, sebagaimana Sagan.

Acara Cosmos ditayangkan di lebih dari 60 negara, dengan penonton lebih dari 500 juta. Inilah acara-TV terbesar pada era 80-an.

Pada episode ke-5, Sagan menjelaskan eksperimen-eksperimen yang dilakukan wahana Viking di permukaan Planet Mars. Episode ini ditutup dengan kemungkinan kolonisasi Mars, yang belakangan menjadi inspirasi orang-orang sesudahnya seperti Elon Musk.

Pada saat yang sama, Carl bekerja sama dengan NASA dalam program luar angkasa Voyager yang hendak menginvestigasi tanda-tanda kehidupan di tepian Tata Surya.

Voyager 1, yang menyelesaikan misi perdananya dan akhirnya meninggalkan Tata Surya, diarahkan oleh NASA untuk mengambil foto terakhir Planet Bumi di tengah keluasan luar angkasa–atas permintaan Carl. Foto Bumi itu terkenal dengan sebutan The Pale Blue Dot (Titik Biru Pucat).

Posisi kita, rasa-penting diri kita, kesan bahwa kita memiliki posisi istimewa di alam semesta ditantang oleh potret Bumi tersebut. Bumi ternyata sebuah benda kecil yang kesepian di tengah keluasan alam semesta yang gelap dan dingin. Dalam kondisi demikian, tidak ada isyarat yang dapat membantu kita untuk bertahan hidup kecuali kita sendiri.

Astronom Masyarakat
Dengan kemunculannya di TV dan tulisan-tulisannya yang memikat, Carl menunjukkan bagaimana alam semesta membuat manusia menjadi rendah hati dan sekaligus merasa istimewa. Dia membuat astronomi hadir di ruang keluarga kita.

Kini, kata “cosmos” identik dengan Carl Sagan. Dia membuat astronomi lebih disukai dan dikenali publik, dengan memopulerkannya. Sebenarnya, Sagan telah membuat astronomi menjadi pengalaman spiritual-intelektual yang mendalam.

Bahwa manusia tidak terpisahkan dari alam semesta, menjadi bagian darinya dan terbuat dari komponen-komponennya. Nitrogen dalam DNA kita, kalsium di gigi kita, dan besi di darah kitaemua itu dibentuk pertama kali di dalam inti bintang yang telah mati. Menyadari bahwa manusia merupakan sisa-sisa bintang yang memikirkan dan merenungkan bintang adalah sebentuk kesadaran spiritual yang sungguh agung.

Referensi:
https://www.wondersofphysics.com/2019/06/carl-sagan-biography.html

Citra Matahari Terkini

Latest image from Helioviewer.org.