Astronomi Dalam Lintas Peradaban

Astronomi adalah ilmu pengetahuan tertua yang terus dikaji dan dipelajari manusia sepanjang waktu. Dalam faktanya, berbagai bangsa (peradaban) memiliki telaah dan kajian terhadap astronomi dengan tujuannya masing-masing. Setidaknya ada lima bangsa (peradaban) yang memiliki telaah dalam astronomi yaitu: Sumeria, Babilonia, China, India, dan Yunani.

Sumeria
Dalam penelitian diketahui bahwa jejak astronomi tertua ditemukan di peradaban bangsa Sumeria dan Babilonia yang tinggal di Mesopotamia [3500-3000 SM]. Bangsa Sumeria diduga telah menerapkan bentuk-bentuk dasar astronomi. Orang Sumeria juga sudah mengetahui gambaran konstelasi bintang sejak 3500 SM. Mereka menggambar pola-pola rasi bintang pada segel, vas, dan papan permainan. Bahkan nama rasi bintang Aquarius yang dikenal saat ini berasal dari bangsa tersebut.

Segel Silinder Bangsa Sumeria yang Menggambarkan 12 Planet di Tata Surya [1]

Babilonia
Babilonia merupakan lanjutan dari perdaban Sumeria. Orang-orang Babilonia dikenal hobi dengan kegiatan eksperimental. Sumbangan besar Babilonia adalah astrologi. Langit yang gemerlap oleh ribuan bintang tentunya sangat inspiratif untuk para astrolog. Para astrolog Babilonia menerka kejadian di langit, mereka beranggapan setiap gerak benda-benda di langit adalah pesan dari penguasa alam yang harus diterjemahkan.

Di peradaban Babilonia telah dilakukan berbagai observasi alam seperti observasi planet-planet dan bintang, disamping mereka juga memperkirakan terjadinya konjungsi Venus yang berlangsung selama 584 hari. Sebagai aksesnya lagi muncul tabel-tabel peredaran benda-benda langit, penyiapan kalender pergantian musim dan perubahan wajah bulan, pemetaaan langit, dan lain-lain. Hal ini merupakan embrio astronomi modern. Sumbangan penting lain Babilonia juga menetapkan sebuah lingkaran Bumi sebesar 360 derajat, menetapkan satu hari 24 jam, satu jam 60 menit dan satu menit 60 detik.

Tablet Bangsa Babilonia yang Memuat Perhitungan Lintasan Jupiter di Langit [2]

Yunani
Astronomi Yunani adalah asimilasi peradaban Babilonia dan Mesir kuno. Di zamannya, Yunani merupakan kiblat astronomi dunia. Di masa Yunani, astronomi telah berkembang menjadi ilmu pengetahuan. Filsuf Thales diduga sebagai pelopor ilmu Astronomi klasik di Yunani. Ia berpendapat bahwa Bumi merupakan dataran yang luas. Namun di waktu yang sama Phytagoras melontarkan pendapat yang berbeda dengan Thales. Menurut Phytagoras, bentuk Bumi adalah bulat, meskipun belum didukung oleh banyak bukti dan argumentasi.

Tokoh Yunani lainnya adalah Erastothenes, yang hidup dan belajar di Mesir (abad ke-3 SM). Dia tercatat sebagai orang pertama mengukur keliling bumi melalui jarak dan bayang-bayang Matahari di kota Aswan dan Alexandria.

Terobosan Astronomi lainnya dilakukan oleh Aristarchus di abad ke-3 SM. Aristarchus tercatat pernah melakukan penelitian ilmiah terhadap jarak Matahari dengan planet-planet dari Bumi. Ia juga berpendapat, Bumi bukan pusat alam semesta, ia menyatakan bahwa Bumi berputar dan beredar mengelilingi Matahari (Heliosentris). Tapi ketika itu tidak banyak yang mendukung teori ini, justru yang didukung adalah teori yang dilontarkan oleh Hiparchus (± tahun 190 – 125 SM).

India
Peradaban India punya pengaruh besar dalam astronomi Islam melalui buku Sindhind yang telah diterjemahkan ke bahasa Arab. Sindhind adalah buku astronomi berisi pengantar lengkap tentang gerak benda-benda langit selama ribuan tahun. Dari buku ini juga diketahui bahwa bulan dan matahari dan seluruh planet pada awalnya bergabung dalam satu garis dan akan kembali dalam posisi serupa di akhir usia dunia. Buku Sindhind ini ditulis oleh seorang India yang bernama Brahmagupta.

Para astronom India kuno meyakini bumi berbentuk bulat dan terawang di alam. Mereka juga meyakini planet-planet beredar mengelilingi Bumi dalam kecepatan yang sama. Orang-orang India juga percaya bahwa Bumi memiliki 7 lapis yang saling berhubungan dan memiliki komunitasnya masing-masing. Selain itu, India juga punya gambaran mitos menarik tentang jagad raya, mereka percaya Bumi bersangga di atas punggung beberapa ekor gajah raksasa, gajah-gajah itu berdiri di atas punggung seekor kura-kura maha besar. Langit tidak lain adalah seekor ular kobra raksasa yang badannya melingkari Bumi, pada malam hari sisik-sisik ular itu mengkilat berkilauan sebagai bintang-bintang.

China
Peradaban China dikenal meninggalkan banyak pengetahuan yang dipandang sangat maju di zamannya. Dalam tradisi China dikenal sinergi antara spiritualitas dan ilmu pengetahuan. Sinergi ini dapat dilacak pada teks-teks sakral China klasik. Selain sumber ajaran, teks-teks ini juga merupakan sumber inspirasi ilmu pengetahuan. Dalam sinaran prinsip spiritualitas dan ilmu itu diantaranya peradaban China mengembangkan astronomi.

Peta Bintang Dunhuang pada Era Dinasti Tang di China, Sekitar Tahun 700 M [3]

Tercatat, peradaban China pernah melakukan perhitungan gerak benda-benda angkasa seperti gerhana yang dipelopori oleh Konfusius. Bahkan, diduga salah satu raja Cina silam pernah membunuh salah satu menterinya karena salah dalam memprediksi (observasi) gerhana matahari pada tahun 200 SM. Di masa ini juga telah ada sistem penanggalan ‘lunisolar’ meskipun sederhana. Di peradaban China juga telah ada kajian terhadap Nova dan Supernova. Astronom China silam Shi Shen, konon sudah berhasil menyusun katalog bintang tertua terdiri 800 entri pada tahun 350 SM.

Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar (Dosen UMSU & Kepala OIF UMSU)

Referensi:
[1]https://solarsystemdrawing.blogspot.com/2020/01/sumerian-depiction-of-solar-system.html
[2]https://www.space.com/31765-ancient-babylonians-tracked-jupiter-with-math.html
[3]https://en.wikipedia.org/wiki/Dunhuang_Star_Chart

Citra Matahari Terkini

Latest image from Helioviewer.org.