Beberapa Karya Utama Astronomi Berbahasa Arab di Peradaban Islam

Kekayaan khazanah peradaban Islam di bidang astronomi dapat dilihat dari khazanah literatur yang ditulis oleh para astronom di zamannya masing-masing. Khazanah literatur tulis ini sekaligus menandakan betapa kreatif dan inovatifnya ilmuwan-ilmuwan Muslim silam yang betapapun sarana kertas dan alat tulis sangat terbatas namun mereka mampu menghasilkan karya-karya spektakuler.

Dalam sejarah tercatat bahwa karya astronomi berbahasa Arab astronomi generasi pertama yang muncul di dunia Islam adalah karya Al-Khawarizmi (w. 830 M) yang berjudul “Zij as-Sindhind”. Karya Al-Khawarizmi ini berisi tabel-tabel pergerakan matahari, bulan, dan planet-planet. Tabel astronomi (zij) Al-Khawarizmi ini juga terhitung sebagai tabel astronomi tertua di dunia Islam.

Secara umum, literatur-literatur induk astronomi sangatlah banyak. Beberapa diantaranya masuk dalam kelompok literatur-literatur komprehensif dan dengan penjabaran luas.Masuk dalam kategori ini antara lain: “al-Qanun al-Mas’udi” karya Abu Raihan al-Biruni (w. 440 H), “Tahrir al-Majisthy” karya Nashir ad-Din al-Thusi (w. 672 H), “Nihayah al-Idrak fi Dirayah al-Aflak” karya Quth ad-Din asy-Syirazi (w. 710 H), “al-Majisthy” karya Abu al-Wafa’ al-Buzjani (w. 388 H), “Ishlah al-Majisthy” karya Jabir bin Aflah (w. ± 540 H), Jâmi’ al-Mabâdi’ wa al-Ghâyât fi ‘Ilm al-Miqât : Abu Ali al-Hasan bin Ali al-Marrakusyi (w. ± 680 H), dan masih banyak lagi. Menurut Hajji Khalifah (w. H) dalam “Kasf azh-Zhunun”, buku Jâmi’ al-Mabâdi’ karya Al-Marrakusyi adalah buku terbesar di bidang astronomi.

Ilustrasi Fase Bulan Oleh Abu Raihan al-Biruni [1]

“Al-Qânûn al-Mas’ûdy”. Buku ini adalah literatur astronomi komprehensif yang mengkaji hampir semua cabang astronomi. Menurut Carlo Nillino dalam karyanya yang berjudul “‘Ilm al-Falak Tarikhuhu ‘Inda al-‘Arab fi al-Qurun al-Wustha”, menyatakan bahwa buku ini merupakan buku istimewa yang tiada bandingannya. Nama “al-Qanun al-Mas’udi” sendiri adalah nisbah kepada seorang raja (Sultan) bernama Mas’ud bin Mahmud (w. H), wali Ghazna tahun 421 H. Al-Biruni menghadiahkan buku ini kepada sang wali tersebut.

Buku “al-Qanun al-Mas’udy” ini berisi 11 makalah dan 143 bab. Pada permulaan buku ini Al-Biruni menguraikan tentang pokok-pokok astronomi (ilmu falak) secara ringkas, kemudian menjelaskan sejarah bangsa-bangsa, perhitungan segi tiga dan lingkaran bola langit, bentuk dan jarak bumi, gerak matahari, gerak bulan dan fase-fasenya, dan pembahasan-pembahasan lainnya. Al-Biruni juga menjelaskan mengenai binntang-bintang ‘diam’ (an-nujum al-tsabitah), gerak melintang dan membujur lima planet ‘pengembara’ serta ukuran dan jaraknya dari bumi, dan seterusnya. Semua yang dikemukakan Al-Biruni dalam karyanya ini kerap disertai dengan dalil-dalil dan argumen matematis, astronomis, dan filosofis.

Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1954-1956 M oleh percetakan “Da’irah al-Ma’arif al-‘Utsmaniyah” di Haidar Abad, India. Dalam versi cetakan ini terdiri dari tiga jilid besar (berisi 1487 halaman). Dan sejauh ini belum ada informasi mengenai buku ini telah ditransfer (terjemah) ke dalam bahasa lain.

“Tahrîr al-Majisthy”. Buku ini ditulis oleh Nashir ad-Din al-Thusi (w. 672 H) ketika ia bermukim di benteng “al-Mout”. Buku ini selesai ia tulis tahun 644 H dan ia hadiahkan kepada Hisam ad-Din al-Hasan bin Muhammad as-Sirasy. Buku ini berisi 13 makalah dan 141 fasal. Secara umum mengkaji tentang bola langit, posisinya, geraknya, pusatnya, dan lain-lain. Lalu tentang keadaan bumi dan bola bumi, lokasi-lokasi yang ditinggali, perbedaannya berdasarkan lintang dan bujur, dan lain-lain. Buku ini merupakan buku yang ditransfer kedalam bahasa Arab pada awal era Abbasiyah. Buku ini ditulis Al-Thusi dari naskah Ishaq bin Hunain dengan editing Tsabit bin Qurrah.

“Nihâyah al-Idrâk fî Dirâyah al-Aflâk”. Buku ini ditulis Quthb ad-Din asy-Syirazy dan ia serahkan kepada Syams ad-Din Muhammad Baha’ al-Juwaini, salah seorang menteri di kesultanan Mongol. Buku ini terdiri dari 4 makalah. Makalah pertama berupa mukadimah (pengantar umum), makalah kedua tentang keadaan benda-benda langit, makalah ketiga tentang keadaan bumi, dan makalah keempat tentang ukuran benda-benda langit.

Selain tiga literatur di atas, masih ada lagi literatur-literatur dalam kategori penjabaran luas, antara lain: “al-Majisthy” karya Abu al-Wafa’ al-Buzjany (w. 388 H), “Ishlah al-Majisthy” karya Jabir bin Aflah (w. ± 540 H), dan lain-lain.

Berikutnya terdapat kelompok literatur-literatur astronomi dalam tingkat menengah. Kelompok literatur tingkatan ini sedikit lebih rendah dari tingkat pertama di atas, dimana literatur tingkat menengah ini tidak begitu terperinci dan tidak menyebutkan argumen-argumen dan dalil-dalil kecuali sangat terbatas dan bersifat global. Pada umumnya lagi ia berupa pengantar dan mukadimah. Masuk dalam kelompok ini antara lain: “at-Tadzkirah fi al-Hai’ah” karya Nashir ad-Din al-Thusi (w. 672 H), “al-Mulakhkhash fi al-Hai’ah al-Basithah” karya Muhammad bin Muhammad al-Jighminy (w. 745 H), “Tasyrih al-Aflak” karya Baha’ ad-Din Muhammad al-‘Amily (w. 1030 H), dan lain-lain.

Buku “at-Tadzkirah fi al-Hai’ah” misalnya, buku ini adakalanya disebut juga “at-Tadzkirah an-Nashiriyah” karya Nashir ad-Din Muhammad bin Muhammad bin al-Hasan al-Thusi (w. 672 H), yaitu sebuah buku ringkas mencakup seluruh persoalan astronomi dan sebagian dalil-dalilnya. Buku ini ditulis Al-Thusi setelah karyanya “Tahrir al-Majisthy”, dan bahkan dapat dikatakan “at-Tadzkirah” merupakan penjelas bagi “Tahrir al-Majisthy” tersebut. Wallahu a’lam.

Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar (Dosen UMSU & Kepala OIF UMSU)

Referensi:
[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Astronomy_in_the_medieval_Islamic_world

Citra Matahari Terkini

Latest image from Helioviewer.org.